Rabu, 02 Februari 2011

ukhuwah islamiyah

Ukhuwah adalah karunia Ilahi yg dituangkan Allah dalam hati2 hamba2Nya yang ikhlas dan bertakwa. Ukhuwah terjalin karena perasaan cinta yang dilandasi iman dan takwa. Sekalipun ada cinta, jika tak ada dasar iman dan takwa, persaudaraan sulit terwujud dan lebih banyak kemungkinan unk saling bertolak belakang.

Untungnya Berukhuwah

Faidah ukhuwah Islamiyah sangatlah besar karena itu Allah pun memberikan kedudukan utama dan mulia serta keutamaan yang banyak bg mereka yg mau mewujudkannya.

Rasulullah salallahu'alaihi wa sallam pernah bercerita:
Seorang laki2 berkunjung kepada saudaranya karena Allah. Lalu Allah menyuruh seorang malaikat unk mengikuti laki2 itu.
Malaikat bertanya 'Mau kemana engkau?',
laki2 itu menjawab 'Aku mau mengunjungi saudaraku, si Fulan'.
Malaikat berkata 'Apakah engkau punya keperluan dengannya?'
Laki2 itu menjawab 'Tidak ada!',
Malaikat berkata 'Apakah ada pertalian kerabat antara engkau dan dia?',
Laki2 itu menjawab 'Tidak!',
Malaikat berkata 'Barangkali ada satu nikmatnya dgn kunjunganmu kepadanya?',
Laki2 itu menjawa 'Tidak!',
Malaikat bertanya 'Kalau begitu apa keperluanmu?'
Laki2 itu menjawab 'Aku menyenangi dia karena Allah'
Malaikat berkata 'Sesungguhnya Allah telah mengutus aku unk menyampaikan berita padamu bahwa Allah mencintaimu karena engkau mencintainya. Maka Allah telah mewajibkan kamu masuk surga (HR Muslim)

Agar Ukhuwah Awet

1. Nyatakan rasa cintamu (ngga main2 loh...Rasulullah sendiri yang menganjurkan)

Seperti dalam Hadist Rasulullah:
"Apabila seseorang mencintai saudaranya, maka hendaklah ia mengatakan rasa cintanya kepadanya" (HR Abu Dawud dan At Tirmidzi)

2. Saling mendoakan

Org yang mendoakan saudaranya pun tdk akan rugi karena keutamaan doa itu sendiri akan ttp kembali kpd org yg mendoakan, spt dalam sebuah hadist:
" Tidaklah seorang hamba mukmin berdoa unk saudaranya dari kejauhan, melainkan malaikat berkata 'Dan bagimu seperti itu' " (HR Muslim)

3. Saling memberi hadiah

Jgn terlalu dipikir susah. Pemberian hadiah tdk hrs menunggu momen2 tertentu apalagi dgn momen bid'ah spt ultah. Juga tdk perlu sesuatu yg bernilai finansial tinggi. Yang diukur adl bkn nilai finansialnya, tp makna dr pemberian hadiah itu sendiri.
Pemberian hadiah spt ini akan menumbuhkan perasaan cinta antara pemberi dan yg diberi, Rasulullah bersabda:
"Saling memberi hadiahlah, niscaya kamu akan saling mencintai" (HR Al Bukhari)
(ehem2...senengnya yang baru dapet hadiah dr saudari yg mencintainya..., mau juga dong "neng" dikasih hadiah...)

4. Melepas kesusahan saudaranya

Rasulullah bersabda:
"Barang siapa melepaskan salah satu kesusahan dunia dr seorang mukmin, maka Allah akan melepaskan salah satu kesusahan hari kiamat darinya. Barang siapa memudahkan org yg dilanda kesulitan, maka Allah akan memudahkannya didunia dan akhirat" (HR Muslim)

5. Memenuhi hak sesama muslim

Yang ini dibagi menjadi 2, hak umum dan hak khusus.

Hak umum:
Dikenal melalui hadist yg bersumber dr Abu Hurairah, Rasulullah berkata:
"Hak muslim atas muslim lainnya ada 6: menjawab salam, menghadiri undangan, memberi nasehat, mendoakannya bila bersin, menjenguknya bila sakit, dan mengantarkan jenazahnya" (HR Muslim)

Hak khusus:
- berinteraksi dlm segala hal
Mestinya, saudara sesama muslim kita jadikan teman dlm meniti kehidupan beragama kita. Teman dalam suka dan duka, ada rasa saling memiliki dan memahami. Bahkan berusaha unk mementingkan urusan saudaranya dr urusannya sendiri sbg wujud perngorbanan tulus unk membahagiakan saudaranya.

- menutup aib
Aib saudara sesama muslim wajib disimpan demi menjaga kehormatannya. Ini akan terwujud jk ada kesadaran bahwa aib saudaranya seakan2 aibnya sendiri.
Rasulullah bersabda:
"Tidaklah seorang hamba menutup aib hamba yg lain, kecuali Allah menutupi keburukannya pada hari kiamat" (HR Muslim)

Cara2 yang bisa ditempuh untuk mengetahui aib diri kita

1. Menghadap seorang ustadzah/ustadz yang bisa mengetahui aib jiwa, sehingga dia bisa mengenali aibnya dan sekaligus mengobatinya. Yang seperti ini seringkali terjadi, dan cukup banyak dokter yang menanganinya
2. Mencari teman karib yang jujur, dapat dipercaya dan bagus agamanya. Dia bisa menjadikan teman karib itu sebagai pendampingnya, agar memberinya peringatan dari akhlak atau perbuatannya yang kurang baik.
3. Mengambil manfaat tentang aib dirinya dari penuturan musuhnya. Sebab mata yang penuh kebencian itu akan memancarkan keburukan. Manfaat yang dapat diambil oleh musuh mengingatkan aib dirinya. Hal ini lebih bermanfaat bagi dirinya dari pada teman karib yang mencari muka dan menutupi aibnya. Kita semua tentu ingat, bahwa rasul pun menuntun kita untuk mengetahu kepribadian seseorang.. tidak saja dari teman karibnya... tapi juga dari musuh2nya
4. Melihat jika manusia menjauhinya, berarti ada yang salah pada dirinya

Lalu apalagi yg ditunggu? Kita sudah tau keutamaan ukhuwah dan kiat2 agar keutamaan itu dpt kita rasakan scr continue...
Niatkan akhuwah ini karena Allah semata agar bernilai ibadah.

(Materi disampaikan oleh : Nisa dengan sumber: Elfata edisi 09/II/2002 dan seri tazkiyatun nafs)

****

Masuk sesi diskusi, banyak pertanyaan bermunculan dari peserta. Antara lain pertanyaan berikut ini berikut tanggapan dari peserta kajian yang lain.

Bagaimana menyikapi saudara yg suudzhon sama kita?

* Tentang suudzhon...ane pernah baca suatu nasehat yang sangat indah...bunyinya begini: kepada saudara sendiri... habisin dulu husnuzhonnya, baru suudzhon...
Hubungan baik antara manusia yang satu dengan yang lain, dan khususnya antara muslim yang satu dengan muslim lainnya merupakan sesuatu yang harus diupayakan dengan sebaik-baiknya.
Hal ini karena Allah SWT telah menggariskan bahwa mu’min itu bersaudara (QS 49: 10). Oleh sebab itulah segala bentuk sikap dan sifat yang akan memperkokoh dan memantapkan persaudaraan harus ditumbuhkan dan dipelihara, sedangkan segala bentuk sikap dan sifat yang dapat merusak ukhuwah harus dihilangkan. Dan agar hubungan ukhuwah islamiyah itu tetap terjalin dengan baik, salah satu sifat positif yang harus dipenuhi adalah husnuzh zhan (berbaik sangka).
Berburuk sangka merupakan sesuatu yang sangat tercela dan mengakibatkan kerugian, maka perbuatan ini sangat dilarang di dalam Islam sebagaimana yang sudah disebutkan pada surat Al Hujurat ayat 12.
Lalu bagaimana menghadapi teman kita yang suudzon pada kita?
1. introspeksi diri, dan fokuskan pada isi kritikan. Muhasabah, karena kita hidup bermasyarakat. Apakah benar seperti yang di prasangkakan. Kalau tidak benar: jawablah dengan hikmah, hujjah yang baik dan lemah lembut. Kalau tidak: sabar. Sebaiknya kita menghargai setiap kritikan yg masuk, apalagi jika diberikan dengan cara yang benar.
Namun kita juga punya adab dalam bermasyarakat dan seupaya mungkin, kita disarankan untuk menutupi aib saudara kita. Inget kisah imam hasan al Banna...
Suatu ketika, seorang sahabatnya mengkritik suatu permasalahan dalam islam, habis2an. Bahkan dipublish kemana2, sehingga semua orang pun membaca. Sahabat2 al imam yang lain tersinggung berat, karena apa yang dituduhkan, tidaklah sepenuhnya benar. Namun apakah yang dilakukan oleh as syahid hasan al banna?? Beliau memilih diam, bersabar dan menyerahkan pada ALLAH. Karena kala itu, jika ditanggapi, apalagi dengan emosi,justru akan banyak mudhoratnya. Dan ternyata diamnya al imam sungguh berhikmah. Sekarang, sahabat yg dulu menghujat habis2an itu malah menjadi partnernya dalam menyiarkan da'wah islamiyah. Dialah Sayyid Qutb.
Demikian saja , tentang menyikapi suudzhon... bercermin pada al imam hasan al banna
(tambahan : artikel tentang suudzon http://unisa.f2o.org/min62/artikel.php?view=30)

* Bila teman kita suudzon, sebaiknya positive thingking saja. Jadikan itu sebagai bahan muhasabah, mungkin ada yang salah pada diri kita dan musti diperbaiki.


Bagaimana mengatasi rasa trauma karena pernah dikecewakan teman padahal selama ini ukhuwah erat terjalin?

* Ukhuwah is ukhuwah , InsyaAlloh klo kita Ikhlas tidak akan ada namanya kecewa dan trauma, seburuk apapun perlakuan atau ketidakadilan yg kita dapat dari ukhuwah itu sendiri.

* Dinding ukhuwah bisa runtuh manakala kita hanya menuntut kesempurnaan, kebaikan dari saudara kita, tanpa mau mengerti keadaan saudara kita itu. Jadi intinya, dalam berukhuwah, kedua belah pihak harus mmemaklumi dan memahami kekurangan masing-masing. Contoh kasus, ada yang merasa kecewa kepada seorang teman karena kecuekannya. Padahal karakter orang tersebut memang demikian, cuek.

Tidak ada komentar: